Selasa, 27 November 2018

Hijrah

Mimpiku pawai burung
Tanpa sayap terbang ke surga
Mimpiku mata rabun
Nyangkut di langit hampa

Insyaallah angan-angan ini
Disetujui oleh para nabi
Tapi jarang kuteliti
Teori mereka mengolah bumi

Kemudian tiba ke khomeiny
Marx, fraire, dan ali syari’ati
Madrasah frankfurt, ngo pinggir kali
Berperang brubuh di rumah sini

Di wajah beberapa kawan
Nama-nama itu menjelma siluman
Ketika tangan mereka acungkan
Terciptalah mesin percetakan

Aku jatuh terjengkang
Tolol di pojok jalan
Hanya sanggup berpamitan
Hijrah ke semesta pengembaraan

1985

Kubuang-buang

Sudah kubuang-buang tuhan
Agar sampai ke yang tak terucapkan
Namun tak sekali ia sedia tak hadir
Terus mengada mengada bagai darah mengalir

Sajakku beranak pinak
Dukungkung tuhan sendirian
Perih cintaku berteriak-teriak
Takut ditolak keabadian

Sudah kubuang-buang tuhan
Sudah kulupa-lupakan
Sampai ingat dan lupa
Lenyap jaraknya

Sampai tahu tak atau menjelma
Baginya tak beda
Sampai gugur mainan ada tiada
Yang menghimpitku di tengahnya

Sudah kubuang-buang
Sudah kubuang-buang
Ia makin saja tuhan
Makin saja tuhan


1986 

Kamis, 11 Oktober 2018

Menertawakan Diri Sendiri

Bermakna lebih dari segala ilmu
Ialah menertawakan diri sendiri
Sesudah kegagahan dipacu
Tahu langkah tak sedalam tangis bayi

Kelahiran dan maut memain-mainkan
Kita jadi perlu sekeras ini bersitegang
Padahal gua ibunda tak di masa silam
Dan kematian tak menunggu diusia petang

Nyembah puisi, buki dikeloni, sejarah dibongkar
Kemudia sumpeg dan ngerti kita bongkar sendiri
Maka laron tahu usia tak sampai semalam
Maka kita pilih saat wajah sendiri dilecehkan

Membantu malaikat ngerjakan tugas dari Ki Dalang
Melakukan cilukba wayang pergantian siang malam
Heran kenapa Chairil minta cuma seribu tahun lagi
Padahal jelas jatah kita abadi


Emha Ainun Nadjib

Jumat, 19 Juni 2015

Ajari Aku Tidur

Tuhan sayang ajari aku tidur
seperti dulu menemuimu di rahim ibu
sesudah lahir menjadi anak kehidupan
sesudah didera tatakrama, pendidikan, politik dan kebodohan
bisaku cuma tidur
tertidur

Tuhan sayang tak kurang-kurang engkau menghibur 
tapi setiap kali badan terbujur ruhku bangkit memekik-mekik!
hidupku jadi ngantuk, luar biasa ngantuk
tanpa pernah bisa sungguh-sungguh tidur

Di siang dunia berseliweran kecemasan
orang-orang berburu prasangka
menumpuk salah paham terhadap kehidupan
memburu dugaan, bersandar pada bayangan
mengulum batu-batu akik, aku ngantuk
sungguh-sungguh ngantuk

Di malam segala nina bobo yang menenggelamkan
tak mampu kubaringkan mati kecilku
ajari mati, ya Tuhan sayang, ajari aku mati
nasib sejarah menggumpal di jantungku
jantung mengerjat-ngerjat
tapi tak pingsan 

Telah beribu kali
jantung meledak tak mati-mati
Tuhan sayang, ya Tuhan sayang
rinduku amat tua
dan sakit

1986
Emha Ainun Nadjib

Membelah Diri

Sayng, kenapa harus membelah diri
Kalau sampai begini sakit
Untuk menyatu kembali

Merekah engkau jadi kita
Jadi tuan dan hamba
PPanjang jarak tak terkira

Sayng, o sayang
Jangan bilang sekedar satu dua hari
Jangan katakan hanya sebatas matahari

Sebab bergulat harus sedemikian nyeri
Jatuh bangun mencari
Tertunda-tunda ketemu diri sendiri

1986
Emha Ainun Nadjib

Menderas

Menderas didarah
Aku yang lain, yang Tuhan 
Menderas, mengalir kepadaku
Seperti aliran sungaiku ke lautnya

Menderas. menggelombang
Seperti ombaknya pada airku

Kami ganti menganti
Saling mengaku, mengia, mengaku

Kami berdenyut bagai satu
Kami bergiliran bagai dua

Kami menghilang, menjelma aku
Sesukanya, sesuka kami, sesukaku

Kami bercanda, siang malam bercanda
Bermain-main hidup di dunia

1986
Emha Ainun Nadjib

Sabtu, 13 Juni 2015

Jangan Tolak Mabukku



Jangan tolak mabukku, ya Kekasih, sebab telah kubayar lebih mahal daroi diriku sendiri

Bering anak panah yang menancapi tubuhku tidaklah mengakibatkan apa-apa kecuali cinta medidih

Rindu direntang-rentang waktu, betapapun telah makin membuat tak berjarak sujud sembahyangku

Telah kenyanyikan segala nada yang mungkin disusun, di pagar lagu atau cakrawala di luarnya

Puisi-puisi anugerahmu mengalir justru disela baris dan kata yang kutuang kepada dunia

Sementara di kesunyian iradatmu yang berlapis-lapis selalu kunantikan sejatinya suara

Maka sungguh jangan tolak mabukku, ya inti Sukma, sementara maafkan pasrahku yang penuh rasa penasaran

Cintamu yang panas telah membuat tubuhku berkeringatkan rindu yang tak habis-habisnya menetes

Cintamu menyabet sukma, menerbangkanku jauh ke sebuah jagat asing yang tak kutahu namanya

Pagi yang ditinggalkan tak berangkat siang, siang yang kukenang tak lagi menjemput malam

Di maha indah negeri cintamu segala gagasan mengatasi rumusan, kandungan jiwa tak tertorehkan

Halaman buku ilmu alam dan makrifat menjadi putih kembali, karena segala rahasia telah tak tertabiri

Maka terimalah, terimalah mabukku, wahai Diri Sejati, tak kuperlukan apapun lagi selain engkau

Itu sebabnya maka kususuri jalanan yang tak dipilih orang, got-got kumuh sepi kehidupan





1986.
Emha Ainun Nadjib