Jumat, 19 Juni 2015

Ajari Aku Tidur

Tuhan sayang ajari aku tidur
seperti dulu menemuimu di rahim ibu
sesudah lahir menjadi anak kehidupan
sesudah didera tatakrama, pendidikan, politik dan kebodohan
bisaku cuma tidur
tertidur

Tuhan sayang tak kurang-kurang engkau menghibur 
tapi setiap kali badan terbujur ruhku bangkit memekik-mekik!
hidupku jadi ngantuk, luar biasa ngantuk
tanpa pernah bisa sungguh-sungguh tidur

Di siang dunia berseliweran kecemasan
orang-orang berburu prasangka
menumpuk salah paham terhadap kehidupan
memburu dugaan, bersandar pada bayangan
mengulum batu-batu akik, aku ngantuk
sungguh-sungguh ngantuk

Di malam segala nina bobo yang menenggelamkan
tak mampu kubaringkan mati kecilku
ajari mati, ya Tuhan sayang, ajari aku mati
nasib sejarah menggumpal di jantungku
jantung mengerjat-ngerjat
tapi tak pingsan 

Telah beribu kali
jantung meledak tak mati-mati
Tuhan sayang, ya Tuhan sayang
rinduku amat tua
dan sakit

1986
Emha Ainun Nadjib

Membelah Diri

Sayng, kenapa harus membelah diri
Kalau sampai begini sakit
Untuk menyatu kembali

Merekah engkau jadi kita
Jadi tuan dan hamba
PPanjang jarak tak terkira

Sayng, o sayang
Jangan bilang sekedar satu dua hari
Jangan katakan hanya sebatas matahari

Sebab bergulat harus sedemikian nyeri
Jatuh bangun mencari
Tertunda-tunda ketemu diri sendiri

1986
Emha Ainun Nadjib

Menderas

Menderas didarah
Aku yang lain, yang Tuhan 
Menderas, mengalir kepadaku
Seperti aliran sungaiku ke lautnya

Menderas. menggelombang
Seperti ombaknya pada airku

Kami ganti menganti
Saling mengaku, mengia, mengaku

Kami berdenyut bagai satu
Kami bergiliran bagai dua

Kami menghilang, menjelma aku
Sesukanya, sesuka kami, sesukaku

Kami bercanda, siang malam bercanda
Bermain-main hidup di dunia

1986
Emha Ainun Nadjib

Sabtu, 13 Juni 2015

Jangan Tolak Mabukku



Jangan tolak mabukku, ya Kekasih, sebab telah kubayar lebih mahal daroi diriku sendiri

Bering anak panah yang menancapi tubuhku tidaklah mengakibatkan apa-apa kecuali cinta medidih

Rindu direntang-rentang waktu, betapapun telah makin membuat tak berjarak sujud sembahyangku

Telah kenyanyikan segala nada yang mungkin disusun, di pagar lagu atau cakrawala di luarnya

Puisi-puisi anugerahmu mengalir justru disela baris dan kata yang kutuang kepada dunia

Sementara di kesunyian iradatmu yang berlapis-lapis selalu kunantikan sejatinya suara

Maka sungguh jangan tolak mabukku, ya inti Sukma, sementara maafkan pasrahku yang penuh rasa penasaran

Cintamu yang panas telah membuat tubuhku berkeringatkan rindu yang tak habis-habisnya menetes

Cintamu menyabet sukma, menerbangkanku jauh ke sebuah jagat asing yang tak kutahu namanya

Pagi yang ditinggalkan tak berangkat siang, siang yang kukenang tak lagi menjemput malam

Di maha indah negeri cintamu segala gagasan mengatasi rumusan, kandungan jiwa tak tertorehkan

Halaman buku ilmu alam dan makrifat menjadi putih kembali, karena segala rahasia telah tak tertabiri

Maka terimalah, terimalah mabukku, wahai Diri Sejati, tak kuperlukan apapun lagi selain engkau

Itu sebabnya maka kususuri jalanan yang tak dipilih orang, got-got kumuh sepi kehidupan





1986.
Emha Ainun Nadjib