Jangan tolak mabukku, ya Kekasih, sebab telah kubayar lebih mahal daroi diriku sendiri
Bering anak panah yang menancapi tubuhku tidaklah mengakibatkan apa-apa kecuali cinta medidih
Rindu direntang-rentang waktu, betapapun telah makin membuat tak berjarak sujud sembahyangku
Telah kenyanyikan segala nada yang mungkin disusun, di pagar lagu atau cakrawala di luarnya
Puisi-puisi anugerahmu mengalir justru disela baris dan kata yang kutuang kepada dunia
Sementara di kesunyian iradatmu yang berlapis-lapis selalu kunantikan sejatinya suara
Maka sungguh jangan tolak mabukku, ya inti Sukma, sementara maafkan pasrahku yang penuh rasa penasaran
Cintamu yang panas telah membuat tubuhku berkeringatkan rindu yang tak habis-habisnya menetes
Cintamu menyabet sukma, menerbangkanku jauh ke sebuah jagat asing yang tak kutahu namanya
Pagi yang ditinggalkan tak berangkat siang, siang yang kukenang tak lagi menjemput malam
Di maha indah negeri cintamu segala gagasan mengatasi rumusan, kandungan jiwa tak tertorehkan
Halaman buku ilmu alam dan makrifat menjadi putih kembali, karena segala rahasia telah tak tertabiri
Maka terimalah, terimalah mabukku, wahai Diri Sejati, tak kuperlukan apapun lagi selain engkau
Itu sebabnya maka kususuri jalanan yang tak dipilih orang, got-got kumuh sepi kehidupan
1986.
Emha Ainun Nadjib
Emha Ainun Nadjib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar